Tentang Quarter Life Crisis yang Sering Dikeluhkan
Beberapa bulan belakangan aku merasa sedang berada di persimpangan. Bukan persimpangan jalan dengan rambu lalu lintas di antaranya, tapi persimpangan jalan hidup yang harus aku pilih dengan suka rela. Aku tidak tahu apakah kamu merasakannya juga, tapi aku sadar kalau aku mulai merasakan gejala dari sesuatu yang kerap kita kenal dengan quarter life crisis.
Pada titik tertentu, aku bahkan pernah mengikuti sebuah seminar tentang krisis ini. Dan itu berbayar. Iya, aku memang sedang berada dalam fase untuk mencoba mengenali dan mencintai diriku sendiri. Aku yang tidak terlalu beruang ini bahkan rela mengeluarkan pundi-pundi yang kukumpulkan dengan susah payah. Jujur saja, aku tidak menyesali sedikitpun semua usaha yang sudah aku lakukan untuk diri ini. Ada sebuah kutipan dari Marie Curie yang sangat aku sukai. Nothing in life is to be feared, it is only to be understood. Now is the time to understand more, so that we may fear less. Aku hanya perlu memahami apa yang terjadi, memahami siapa diriku, apa yang aku mau, dan bagaimana aku mencapai impianku.
Berlarut dalam kesedihan dan kebingungan bukanlah jalan yang aku pilih. Aku paham bahwa semua perasaan itu valid. Namun, berlarut di dalamnya sama saja seperti menggali lubang gelap tak berujung untuk diriku sendiri. Fokus mengoptimalkan sumber daya yang aku punya untuk mencapai tujuan adalah langkah tepat untuk kulakukan. Hal ini seperti sebuah kaca mata hitam untuk melindungiku dari silaunya sosial media sehingga aku bisa lebih fokus pada apa yang menjadi tujuan hidupku.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku pernah ikut sebuah seminar tentang quarter life crisis. Di seminar itu aku bertanya tentang bagaimana cara aku mengetahui kalau tujuan yang kuperjuangkan sekarang adalah benar-benar sesuatu yang aku inginkan dan bukan hanya sekedar ego. Kemudian aku mendapat sebuah jawaban yang intinya, bahwa ego datang dari orang lain. Kamu ingin membuktikan bahwa kamu lebih hebat, kamu bisa melakukan ini itu. Iya, gengsi. Untuk mengetahui apakah sesuatu benar-benar datang dari dalam diri kamu, coba bayangkan diri kamu sedang berada dalam hutan sendirian. Apakah kamu masih ingin melakukan hal itu? konsisten terhadap impianmu? Yang aku pahami adalah bahwa jika kamu mencintai sesuatu dan meskipun tidak ada lahan “pamer” kamu masih ingin melakukannya setulus hati, 1000% dari dalam lubuk hati.
Aku percaya bahwa krisis ini adalah sebuah fase, bukan penyakit apalagi kutukan. Wajar jika merasa lelah, bahkan ingin menyerah. Namun percayalah, ada terlalu banyak hal diluar sana yang belum kamu ketahui. Baca lebih banyak buku, tonton lebih banyak dokumenter, diskusi dengan lebih banyak orang. Dengan memahami dunia sedikit lebih banyak daripada kemarin, keraguan akan diri sendiri akan luntur perlahan.
Aku juga memahami bahwa tidak mudah untuk mengabaikan perkataan tidak perlu yang sering masyarakat kita dengungkan. Kapan ini, kapan itu, coba lihat dia begini, dia begitu, dan masih banyak lagi. Aku memahami bahwa, orang-orang bisa mengatakan apapun yang mereka inginkan, tapi aku juga bisa memilih apa yang ingin aku dengarkan. Bukan, sombong bukanlah hal yang aku maksud. Dengan memahami nilai dan tujuan yang kita miliki dalam hidup, kita bisa lebih mudah untuk mendengarkan kritik membangun dan meninggalkan pelampiasan kecemasan orang-orang akan diri mereka sendiri.
Usia harapan hidup manusia sampai saat ini tidak terlalu lama, cobalah berhenti untuk membuang waktumu dengan meragukan sesuatu yang bahkan tidak memiliki landasan yang jelas. You are young, and you are worth it. Your dream is waiting you in the same place, don’t chase the wrong direction and get stuck with distraction.
Komentar
Posting Komentar