Ada Ninja di Jalan Raya
Sabtu sore di awal tahun 2020, aku pergi ke kedai kopi favoritku. Aku mengendarai motor matic kesayangan yang sudah menemaniku tiga tahun ini. Perjalanan sore itu terasa tenang, sampai ada seorang pengendara motor berkecepatan tinggi di belakangku yang ingin menyalip truk di depan. Aku yang melihatnya hanya bisa bergidik ngeri karena dari arah berlawanan ada mobil mini bus yang sudah dekat dengan posisi kami. Namun, pengendara motor tadi tetap menyalip dengan segala akrobatnya, liuk kanan liuk kiri berusaha menghindari truk dan mobil mini bus. Syukurnya, tidak ada kecelakaan yang terjadi. Aku melanjutkan perjalananku dengan lebih waspada.
Lima menit kemudian aku sampai di pertigaan yang cukup besar, tidak ada lampu lalu lintas yang beroprasi di situ. Tiba-tiba dari arah berlawanan ada mobil berkecepatan tinggi berbelok cukup tajam didepanku yang akan berjalan lurus. Mau tidak mau aku dan beberapa motor yang searah denganku mengerem sekuat tenaga agar tidak terjadi tabrakan. Aku hanya bisa merutuki pengendara mobil tadi dalam hati, sementara beberapa pengendara di belakangku menekan-nekan klakson mereka mengungkapkan kekesalan sembari mengucapkan serapahan. Setelah itu, aku mengendarai motorku dengan perasaan was-was sembari membatin akan ada drama apa lagi sepanjang perjalanan ini hingga sampai di tempat tujuan.
Kalau dipikirkan lagi, sebenarnya kejadian-kejadian seperti yang aku ceritakan tadi bukanlah hal yang baru. Setiap hari ada saja perilaku pengendara yang bisa membuat jantung ini berolahraga. Sebenarnya ada apa dengan orang-orang di jalan raya? Aku sempat berpikir bahwa mungkin ada beberapa orang yang benar-benar dalam keadaan yang mendesak dan harus segera sampai di tempat tujuan sehingga mereka berperilaku demikian. Namun, beberapa orang yang aku pikir satu atau dua berubah menjadi kumpulan yang tak terhingga. Jadi, apakah benar orang yang berperilaku semena-mena di jalan raya itu karena didesak keadaan? Atau memang ada faktor lain?
Karena penasaran, aku pun mencari tahu tentang hal ini. Hasil riset yang dilakukan oleh sekelompok peneliti Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya di Kota Malang pada tahun 2017 menyebutkan bahwa perilaku agresif pengemudi di jalan yang paling sering terjadi adalah menambah kecepatan ketika melihat lampu lalu lintas berwarna kuning menyala, berpindah-pindah jalur untuk mencari celah jalan yang dapat dilalui, mengemudi melebihi batas maksimum, memperkecil jarak dengan kendaraan di depan untuk menghalangi pengendara lain yang akan mendahului, dan menolak memberikan jalan untuk pengendara lain. Nah, bagaimana? Apakah diantara kalian ada yang tidak asing dengan perilaku-perilaku yang aku sebutkan tadi? Atau kalian malah menjadi salah satu pelaku perilaku tersebut? Kalau begitu, selanjutnya kita akan membahas mengenai faktor-faktor penyebab perilaku agresif pengendara.
Dalam hasil penelitian Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya tadi menyebutkan bahwa faktor dominan yang mengakibatkan pengendara kendaraan bermotor berperilaku agresif adalah faktor territioriality. Adanya pengendara lain yang mengancam teritori seorang pengendara atau adanya pengendara lain yang berbuat onar dapat menyebabkan perilaku agresif berupa tatapan sinis atau tajam. Kemungkinan faktor ini juga bisa menjelaskan mengapa pengendara lain mengklakson berulang-ulang ketika ada mobil yang menyerobot di pertigaan besar yang aku ceritakan di awal.
Selain faktor territioriality juga ada 14 faktor lain, beberapa diantaranya adalah regulation, dimana seorang pengendara merasa lampu merah adalah hal yang sangat memberatkan sehingga pengendara akan cenderung menambah kecepatan kendaraan mereka saat melihat lampu kuning. Selanjutnya restriction, adalah faktor yang menyebabkan pengendara ingin melalui jalan yang lebih cepat yaitu dengan melewati kendaraan lain melalui celah yang dapat dilewati, baik berupa celah kecil antar kendaraan lain atau bahkan bahu jalan dan trotoar. Selain itu, juga ada faktor yang disebut dengan denial, yaitu pengendara memaksa pengendara lain untuk menyingkir dari jalur cepat yang dilaluinya karena menganggap pengendara-pengendara lain mengendarai kendaraan mereka dengan kecepatan yang terlalu rendah. Salah satu perilaku yang dilakukan adalah memberikan tanda agar pengemudi lain segera berpindah jalur.
Dari hasil penelitian yang telah kita bahas bisa diketahui bahwa perilaku agresif pengendara di jalan jauh lebih kompleks dari sekedar ingin segera sampai di tempat tujuan. Perilaku agresif merupakan spektrum yang luas, dari sekedar memberikan tatapan sinis hingga memberikan tanda untuk pengemudi lain berpindah jalur, mungkin bahasa sederhananya “mengusir pengemudi lain dari jalur yang dia mau”, hadehh.
Perlu kita ketahui bahwa jalan raya adalah hak bersama. Ada banyak orang yang sama-sama membutuhkan jalan raya untuk menunjang kesehariannya. Jalan raya bukanlah sirkuit balap dimana seseorang bisa memacu kendaraannya sekencang mungkin, bukan juga permainan video games tempat beradu poin dengan teman dan kalau jatuh tinggal menekan start new game. Tolong, ini dunia nyata. Ada banyak nyawa di dalamnya.
Jika kita mulai menghargai hak orang lain untuk menggunakan jalan dengan nyaman, kita juga akan berkendara sesuai peraturan. Peraturan lalu lintas dibuat agar perjalanan menjadi lancar dan meminimalisir kecelakaan. Kita adalah manusia, kita hidup bersama. Sepenting apapun urusan kita pada waktu itu, tidak pernah membenarkan untuk menerobos rambu lalu lintas sesuka hati.
Selalu ingat bahwa ada nyawa yang perlu kita jaga, diri kita sendiri dan orang lain. Keluargaku, keluargamu, dan keluarga mereka menanti kita dengan penuh harap di rumah.
Sumber:
Herani, I. dan Jauhari, A. Y. 2017. Perilaku Agresif Para Pengguna Kendaraan Bermotor di Kota Malang. Mediapsi. Volume 3. Nomor 2
Kalau aku sih regulation hahahaha. Karena lampu merah bagiku menghambat dan membuanh waktu. Tapi tidak mungkin jika tidak ada lampu merah. Sebab bisa dibayangkan sendiri bagaimana hancurnya lalu lintas di jalan raya hahahaha
BalasHapusKalau bisa orang-orang minggir terus kita doang yang lewat gitu yaa hahah. Eh.. Ambulance dong!
Hapus