Mindfulness dalam Kehidupan Sehari-hari: tentang Aku dan Langit
Pandemi identik dengan jarak dan isolasi. Semua lini
kehidupan dibatasi. Dalam situasi yang sulit ini, aku memahami kalau
satu-satunya pejuang terakhir dalam hidupku adalah diri sendiri. Kehidupan
sosial bergeser dari tatap muka ke dunia maya. Semakin banyak pula aku
mengakses internet dan berjibaku di sana. Kemudian, aku menyadari kalau semakin
banyak orang yang peduli dengan kesehatan mental. Dari thread, info grafik,
artikel, bahkan webinar, begitu banyak informasi yang bisa diakses untuk
membantu kita tetap waras ditengah perubahan dramatis yang culas.
Salah satu topik yang membuatku tertarik adalah mindfulness, suatu kata yang tidak
pernah aku dengar sebelumnya. Dari beberapa definisi yang aku baca,
sederhananya mindfulness adalah kita
sepenuhnya sadar kalau kita hidup di masa ini, sekarang, dan tidak berpikir
terlalu jauh ke masa lalu ataupun masa depan.
Rasa ingin tahu membuatku menggali lebih lanjut, lalu aku
bertemu dengan sebuah artikel penelitian ilmuwan Harvard. Dalam website
resminya, news.harvard.edu, ada sebuah artikel yang mengulas tentang bagaimana mindfulness bisa membantu mengatasi
gangguan kecemasan. Dalam penelitian itu dilakukan MRI brain scan untuk menguji
apakah ada perubahan setelah menerapkan meditasi mindfulness. Setelah 8 minggu diambil sampel acak sebanyak 25 orang
dari 42 orang partisipan. Para peneliti menemukan bahwa ada perubahan pada bagian
dari otak besar yang bernama hipokampus setelah menerapkan mindfulness yang dikaitkan dengan peningkatan kemampuan buat
mengingat safety memory, sehingga
bisa merespon dengan cara yang lebih adaptif terhadap perasaan takut.
Selain bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan mental
seperti yang sudah diteliti di Harvard tadi, masih ada manfaat lain nih dari
mindfulness. Mindfulness bisa mengurangi resiko terkena penyakit karena mindfulness bis meningkatkan sistem imun
kita, memperbaiki detak jantung, dan fungsi vaskular. Selain itu, beberapa
penelitian juga membuktikan kalau mindfulness
yang tepat bisa meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit. Fisik dan mental.
Lalu…
Bagaimana?
Bagaimana caranya untuk menerapkan mindfulness ini?
Sejujurnya, banyak. Ada banyak cara yang bisa membantu
kita untuk menerapkan mindfulness di
kehidupan sehari-hari. Kalau bicara tentang diriku, cara terbaik bagiku adalah
mendongak mengamati awan yang bergerak perlahan di birunya langit yang
membentang. Betapa awan akan selalu datang dan pergi, bagaimanapun bentuknya,
bagaimanapun indahnya. Tapi… tidak dengan langit, dia akan bertahan, dia
bertahan menghadapi segala badai yang membuatnya kelam legam lalu kembali biru
saat semua sudah tenang.
Aku melihat diriku sebagai langit. Aku bertahan, aku
tidak akan meninggalkan diriku sendirian. Aku menerima bahwa awan adalah bagian
dari hidupku, aku menyadari bahwa semua perasaan itu akan selalu datang dan
berlalu. Namun tidak dengan diriku, aku akan tetap berada di sana, menghadapi
badai dengan berani lalu melukis asa dengan warna biru menyejukkan hati.
Masih ada terlalu banyak hal yang perlu pahami dalam
hidup, tapi satu hal yang pasti, hari ini aku menerima diriku lebih baik dari
kemarin. Aku mampu memaafkan hari yang berlalu, berlari sekuat tenaga hari ini,
untuk hari esok yang sudah lama kunanti.
Komentar
Posting Komentar