Secarik Kertas untuk Kesedihan



Selama ini, kesedihan jarang sekali dibicarakan. Lagi pula, memang siapa yang suka mengumbar rasa sedihnya? Sebagian besar dari kita pastinya lebih senang berbagi momen bahagia di sosial media daripada kesedihan yang sedang kita rasa. Saking tidak dipedulikannya emosi yang satu ini, kita mungkin sering menganggapnya tidak ada, seolah kita kebal olehnya.

Nyatanya, perasaan sedih adalah bagian dari emosi kita yang memang ada dan perlu kita terima bahwa manusia juga bisa merasakan kesedihan. Aku tidak mengatakan bahwa kita harus meromantisasi dan mengumbar rasa sedih kita di depan semua orang, ya. Artikel ini bertujuan untuk berbagi awareness, kalau kita juga bisa merasakan kesedihan.

Kesedihan adalah suatu emosi yang ditandai dengan perasaan tidak beruntung, kehilangan, dan ketidakberdayaan. Pada umumnya, manusia sering menunjukkan beberapa perilaku saat mereka sedang bersedih, seperti menarik diri dari kehidupan sosial, kurang bersemangat, bahkan menjadi pendiam. Kesedihan biasanya muncul karena kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Kesedihan juga dapat timbul karena kegagalan akan sesuatu yang ingin kita raih. 
 
Rasa-rasanya, setiap dari kita pasti pernah mengalami peristiwa pemicu kesedihan seperti yang aku sebutkan sebelumnya. Namun, tidak semua orang mau mengakui bahwa dirinya sedang bersedih. Disadari atau tidak, masyarakat kita masih memiliki literasi yang rendah terhadap kesehatan mental. Kalian pasti pernah mendengar ungkapan "dibawa happy aja", kan? Jujur saja, aku cukup kesal dengan siapapun yang mempopulerkan ungkapan ini. Maksudku, bagaimana mungkin aku bisa  bahagia saat sedang menghadapi kehilangan dan kegagalan? Ini tentang manusia dan perasaannya bukan robot yang punya tombol on dan off.
Seperti film yang ramai dibicarakan baru-baru ini, apalagi kalau bukan Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini alias NKCTHI. Film lokal dengan judul terpanjang yang pernah aku tonton ini membuatku bercucuran air mata di depan layar bioskop. Entah mengapa aku merasa banyak hal yang relatable dari film ini. Setelah aku baca review-reviewnya, banyak juga yang merasakan hal yang sama. Mungkin film ini cukup bisa mewakili kondisi keluarga di masyarakat kita. Dimana kita sering diajarkan untuk selalu bahagia terlepas peristiwa apa yang sedang kita alami. Memendam kesedihan dan menutupi masalah juga banyak dilakukan agar tetap "bahagia".

Setelah semakin dewasa, aku menyadari bahwa semakin dalam kesedihan itu dipendam, semakin dalam pula luka yang dibuatnya. Entah kapan luka itu akan terinveksi dan menyebabkan penyakit. Iya, luka ini bukan sesuatu yang bisa dilihat dengan mata, letaknya jauh dalam lubuk hati kita. Mungkin saja kita tidak mau mengakui ke orang lain kalau kita sedang bersedih, tapi paling tidak kita perlu jujur terhadap diri kita sendiri atas apa yang kita rasakan. Mengakui pada diri ini bahwa kita sedang terluka dan tidak baik-baik saja. And it's okay not to be okay! Dengan mengakui bahwa luka itu ada, maka akan ada jalan untuk mengobatinya. Cara mengobati luka batin masing-masing orang mungkin saja berbeda. Namun semua memiliki tujuan yang sama, untuk menyembuhkan luka. Asalkan dilakukan dengan cara yang baik, sih, tidak ada masalah mestinya. 

Semua orang hidup adalah pelajar, karena setiap hari ada pelajaran yang bisa dipetik dalam hidup ini. Mari sama-sama menyembuhkan luka, agar kita bahagia. Bahagia yang sesungguhnya!



Komentar

Posting Komentar